Semakin bertalenta seorang pembalap MotoGP, semakin pula ia sulit diajak bekerja sama. Inilah pendapat eks direktur komunikasi dan marketing Honda Racing Corporation sekaligus eks team principal Repsol Honda, Livio Suppo dalam wawancaranya bersama Speedweek baru-baru ini.

Suppo bergabung dengan HRC sejak tahun 2010, usai lama “mengabdi” untuk Ducati Corse sejak 2003. Ialah yang berjasa membawa Casey Stoner dan Marc Marquez ke Repsol Honda. Suppo pun dikenal punya hubungan yang baik dengan Marquez dan Dani Pedrosa.

“Semakin bertalenta seorang rider, makin besar pula kekuasaan mereka. Semakin berkuasa, makin sulit pula bekerja dengan mereka. Untungnya, Marc dan Dani punya karakter yang sangat baik meski sangat bertalenta. Keduanya sangat akur dengan tim,” ujar Suppo.

“Di kelas MotoGP, pabrikan adalah “budak” bagi para rider top. Rider menghadirkan perbedaan besar. Jika Anda punya rider yang tepat, Anda hanya harus membuatnya tetap senang hingga ia bisa menjalankan pekerjaan sebaik mungkin. Tapi tanpa rider top, Anda juga takkan bisa dapat hasil baik,” lanjutnya.

Pria asal Italia ini pun mengaku Marquez merupakan rider favoritnya di antara semua rider yang pernah ia ajak bekerja sama. Menurutnya, meski sangat bertalenta dan telah merebut enam gelar dunia, Marquez tak punya sikap semena-mena pada timnya dan selalu ceria.

“Marc memang spesial. Kelebihan terbesar Marc adalah karakternya. Marc tak pernah mengeluh lebih dari semenit, karena ia memang punya karakter positif. Jika dilihat dari usianya, ia bisa jadi anak saya. Tapi justru dialah yang mengajari saya untuk selalu berpikir positif. Ia tak pernah bersikap “drama” meski masih muda, sukses dan kaya raya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *